Disentri: Penyebab, Gejala, Diagnosis, Pengobatan, dll.
Apakah Anda sedang mengalami sakit perut, perut mual, demam, dan
feses yang dikeluarkan berdarah serta berlendir? Hati-hati, bisa jadi
Anda terkena penyakit disentri. Lantas, apa itu disentri? Apa gejala
disentri? Apa penyebab disentri? Apa komplikasi disentri? Apa obat
disentri yang harus dikonsumsi?
baca juga Apa itu Virus Corona
Apa Itu Disentri?
Disentri
adalah kondisi di mana usus mengalami peradangan yang kemudian
menyebabkan diare. Saat Anda mengalami disentri, frekuensi buang air
besar (BAB) akan lebih sering, pun diikuti oleh sejumlah gejala lainnya
seperti perut sakit dan feses yang berdarah. Kondisi lingkungan
sekitar yang tidak higienis, konsumsi makanan yang tercemar, hingga
kebiasaan malas mencuci tangan sehabis dari toilet adalah faktor-faktor
pemicu terserangnya tubuh oleh disentri. Selain itu, kontak fisik dengan
penderita disentri juga turut berkontribusi dalam penyebaran penyakit
ini.
Penyebab Disentri
Penyebab disentri dibagi menjadi 2,
yakni berdasarkan mikroorganisme yang menginfeksinya, apakah bakteri
atau amoeba. Berikut adalah penjelasannya.
1. Disentri Akibat Infeksi Bakteri (Baccilary Dysentery atau Shigellosis)
Penyebab disentri yang pertama yakni infeksi usus oleh bakteri. Bakteri penyebab disentri sendiri terdiri dari:
- Shigella
- Campylobacter
- Coli
- Salmonella
Shigella menjadi
bakteri yang paling sering menginfeksi usus sehingga menyebabkan
disentri. Bakteri ini biasanya terdapat di dalam tinja dari orang yang
terinfeksi dan dapat menyebar lewat sejumlah cara, seperti tangan yang
tidak dicuci sampai bersih sehabis BAB, dan mengonsumsi makanan atau
minuman yang terkontaminasi. Sayangnya, kontak fisik dapat
menyebabkan Anda terkena disentri ini, sekalipun Anda rutin mencuci
tangan dan makan makanan yang terjamin higienitasnya. Oleh sebab itu,
penting sekali bagi kita semua untuk senantiasa menjaga kebersihan diri
dan lingkungan guna mencegah penyebaran bakteri disentri ini.
2. Disentri Akibat Infeksi Amoeba (Amoebiasis)
Selain bakteri, penyebab disentri juga bisa karena infeksi amoeba yang bernama entamoeba histolytica. Sama
seperti disentri akibat bakteri, disentri akibat amoeba juga
dikarenakan kondisi lingkungan yang tidak higienis, kontak fisik dengan
orang yang terkena disentri, dan konsumsi makanan atau minuman yang
terkontaminasi.
Ciri dan Gejala Disentri
Karena disentri
ini berkaitan dengan sistem pencernaan, tepatnya usus, maka gejala yang
muncul berada di sekitar area perut. Umumnya, gejala disentri berupa:
- Demam
- Nyeri atau kram perut
- Perut terasa mual
- Buang air besar berkali-kali dalam sehari
- Feses berdarah dan berlendir
Disentri
akan muncul sekitar 1 sampai 2 hari pasca usus terinfeksi bakteri.
Disentri tidak mengenal usia, namun anak-anak dan lansia lebih rentan
terhadap infeksi bakteri penyebab disentri ini dan biasanya harus
menjalani rawat inap guna menyembuhkan penyakitnya. Apabila Anda
mengalami satu atau lebih dari gejala disentri tersebut, segera
periksakan diri ke dokter untuk dilakukan penanganan medis lebih lanjut.
Komplikasi Disentri
Jika
tidak segera ditangani, bukan tidak mungkin disentri akan menyebabkan
komplikasi kesehatan serius yang membahayakan diri Anda.
1. Infeksi Aliran Darah (Septisemia)
Infeksi
aliran darah (septisemia) adalah kondisi di mana bakteri berhasil masuk
ke dalam aliran darah. Kendati jarang terjadi, Anda tetap harus
mewaspadai kemungkinan terjadinya septisemia ini, ya. Contoh
penyakit yang berpotensi menyebabkan septisemia di antaranya HIV/AIDS,
kanker, atau mereka yang sedang menjalani kemoterapi.
2. Sindrom Uremik Herolitik (HUS)
Sindrom
Uremik Herolitik (HUS) adalah kondisi ketika infeksi yang menyerang
sistem pencernaan memproduksi racun yang kemudian merusak sel darah
merah. HUS ini tergolong penyakit serius sehingga ketika Anda
didiagnosis menderita HUS, maka penanganan medis khusus mutlak untuk
segera dilakukan untuk mencegah kondisinya bertambah parah.
baca juga Gejala Covid 19
3. Artritis
Komplikasi
disentri berupa radang snedi (artritis) berkontribusi sekitar 2 persen
dari total komplikasi disentri yang mungkin terjadi. Artritis terjadi
jika bakteri yang menginfeksi adalah bakteri shigella berjenis shigella flexneri.
Saat mengidap artritis, Anda akan merasakan sejumlah gejala, seperti:
- Nyeri sendi
- Iritasi mata
- Buang air kecil terasa sakit
Komplikasi
disentri yang satu ini dapat berlangsung selama berminggu-minggu bahkan
berbulan-bulan. Oleh karena itu, saat Anda menderita disentri, segera
lakukan penanganan medis sebelum bertambah parah.
4. Abses Hati
Disentri
yang disebabkan oleh infeksi amoeba (amoebiasis) juga bisa menimbulkan
komplikasi disnetri berupa penyakit abses hati, meskipun jarang terjadi.
Jika terus dibiarkan, infeksi dapat menjalar ke paru-paru bahkan ke
otak.
5. Kejang-Kejang
Pada anak-anak, komplikasi disentri
yang umum terjadi adalah kejang-kejang. Belum ada penjelasan medis yang
kuat terkait komplikasi disentri yang satu ini. Kejang-kejang tidak
berbahaya karena biasanya akan hilang dalam beberapa hari tanpa perlu
obat-obatan. Namun jika kejang-kejang tak kunjung reda, segera
periksakan diri ke dokter untuk penanganan lebih lanjut.
Diagnosis Disentri
Manakala
Anda merasakan gejala disentri, segera kunjungi dokter agar dilakukan
pemeriksaan. Dokter akan melakukan sejumlah prosedur pemeriksaan guna
memastikan ada atau tidaknya indikasi disentri pada tubuh Anda.
1. Anamnesis
Dokter
akan mengajukan beberapa pertanyaan kepada Anda guna mendapatkan
simpulan awal (hipotesis). Biasanya diawali dengan keluhan yang Anda
alami, riwayat penyakit, gaya hidup, hingga konsumsi makanan atau
minuman sehari-hari.
2. Pemeriksaan Fisik
Prosedur
diagnosis selanjutnya yakni dengan melakukan pemeriksaan fisik. Dokter
akan memeriksa area perut, hingga berat badan Anda. Setelah itu,
kemungkinan dokter akan memberikan resep obat, atau melakukan prosedur
selanjutnya guna memastikan lagi penyebab pasti disentri yang Anda
derita.
3. Pemeriksaan Penunjang
Pada beberapa kasus disentri kronik, dokter akan melakukan serangkaian prosedur penunjang, yaitu:
Pemeriksaan Laboratorium
Dokter
akan mengambil sampel feses Anda. Setelah itu, dokter akan memeriksa
apakah di dalam feses Anda terdapat bakteri atau amoeba penyebab
disentri tersebut.
USG
Sementara itu,
jika disentri telah menimbulkan komplikasi berupa abses hati, dokter
akan mengambil sampel darah pasien, atau melakukan cek USG di area perut
guna melihat kondisi hati (liver) yang mengalami abses akibat disentri
ini.
Kolonoskopi
Kolonoskopi adalah
prosedur pemeriksaan medis dengan cara memasukkan kamera ke dalam tubuh
melalui lubang anus guna melihat kondisi usus. Sebelum menerapkan
prosedur kolonoskopi, dokter akan meminta Anda untuk melakukan diet
singkat selama beberapa hari sebelumnya, juga memberikan obat pencahar
dan obat penenang.
Pengobatan Disentri
Cara mengobati
disentri berbeda-beda, tergantung dari seberapa parah disentri yang
dialami. Lazimnya, dokter akan memberikan resep obat untuk mengatasi
disentri. Berikut adalah beberapa contoh obat disentri yang bisa
dikonsumsi.
1. Antibiotik
Antibiotik adalah obat untuk
disentri yang paling efektif. Obat ini bertugas untuk membasmi bakteri
dan amoeba penyebab disentri. Contoh antibiotik untuk menghilangkan
disentri adalah:
- Ciprofloxacin
- Ceftriaxone
- Ampisilin
- Metronidazole
- Tinidazole
2. Oralit
Selain antibiotik, larutan oralit adalah obat ampuh untuk mengatasi diare yang disebabkan oleh disentri. Oralit
bisa Anda temukan di apotek, atau dibuat sendiri dengan melarutkan gula
dan garam di dalam air putih. Ingat, tanyakan dulu kepada dokter untuk
mendapatkan dosis ideal dari oralit ini.
Pencegahan Disentri
Sejatinya, disentri dapat dicegah dengan menerapkan hal-hal berikut ini:
- Istirahat yang cukup
- Menghindari makanan pedas
- Minum air putih yang cukup
- Menjaga kebersihan tubuh, terutama tangan dan saluran pembuangan (ekskresi)
- Menjaga kebersihan lingkungan
- Mengonsumsi makanan yang sudah teruji higienitasnya
Itu
dia informasi mengenai disentri. Menerapkan hidup yang sehat dan peduli
dengan kebersihan adalah kunci utama untuk menghindari diri Anda dan
keluarga dari disentri. Jadi, jaga selalu kebersihan diri dan
lingkungan, ya. Semoga bermanfaat!

Belum ada Komentar untuk "Disentri: Penyebab, Gejala, Diagnosis, Pengobatan, dll."
Posting Komentar